Thursday, March 28, 2013

Why am I writing?

I’m writing this now because tonight my stupid mind suddenly remember about it again… and I kinda re-pissed, to be honest.
Let me start from the root of the problem, my writing activity. Buat gue menulis itu adalah hobi… dan gue juga bukanlah termasuk penulis yang produktif-produktif amat, juga bukan orang yang punya segudang ide. Gue hanya suka menulis, menulis apapun itu. Mulai dari menulis demi ngerjain tugas LKS waktu jaman sekolah, menyalin catatan dan bikin contekan buat kuliah, coret-coretan ga penting di notebook, sampai menulis di blog dan membuat cerita series.
Pada intinya, for me… writing is some kind of theraphy, it’s healing.
Jadi bisa dilihat bahwa gue termasuk golongan kasta paling bawah dalam dunia tulis-menulis, gue adalah amatir seamatir-amatirnya amatir. So, here’s the story… beberapa waktu yang lalu gue pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal dalam kegiatan menulis gue, yang dengan apesnya pada saat itu bentuknya adalah sebuah cerita online, yang dipublish dengan bebas di internet.
Suatu hari, Janet – my bestfriend slash my writing partner – got this brilliant idea about making some twitseries. Sesuai dengan namanya, adalah cerita series yang ditulis real-time via twitter. Merasa itu ide brilian, jelas dong gue bilang “Ok! Ayo kita bikin!”. Disitulah kesalahan gue dimulai. Ketika Janet menagih nama karakter yang akan gue pakai di cerita tersebut, I spilled one name which I really like, yang dalam ingatan gue pernah gue dengar atau gue baca di suatu tempat. Sebut saja namanya ‘Bayam’. Lalu kemudian cerita itu mulai dibuat, dengan sangat lancar, sampai ketika suatu hari ada SMS dari nomor yang nggak dikenal masuk ke handphone gue, isinya kira-kira masalah nama si Bayam yang ternyata ada yang punya. Pada awalnya gue menanggapi dengan biasa aja, tentu dengan permintaan maaf yang sedalam-dalamnya dan janji untuk segera mencopot nama Bayam dari cerita tersebut. Tapi ternyata, masalah yang lebih besar datang ketika gue mendadak ingat dari mana gue tau nama Bayam itu berasal. Ternyata Bayam adalah salah satu temen sekolah gue, sodara-sodara… nah loh, sadarlah gue pada saat itu kenapa si Bayam ini ngotot sekali minta masalah pencatutan nama yang nggak disengaja ini diluruskan. Lalu gue akhirnya janjian ketemu sama bayam, kenapa gue mau ketemu sama dia? Karena gue memang mengakui kesalahan gue, yang nggak disengaja itu. Karena gue dan Bayam pernah bersekolah di satu sekolah yang sama dalam jangka waktu yang sangat pendek, itu juga gue nggak sekelas sama dia, itu juga gue nggak deket sama dia, I even barely remember if I ever spoke to her when we were in school.
Ditambah faktor kebodohan yang utama adalah kenapa gue dilahirkan menjadi orang yang pelupa? Banget? Kenapaaaaa???
Kenapa gue sampai bisa lupa total kalau nama yang sangat gue suka itu adalah nama temen gue sendiri. Karena misalkan dari awal gue sadar nama itu adalah nama dia, apakah mungkin gue dengan nggak tau malunya masih akan memakai nama itu di cerita gue tanpa izin? Of course I won’t.
Pada saat ketemu, gue sama dia sama-sama mengakui kalau sebenarnya kita udah lupa dengan satu sama lain. Ya menurut lo, dari awalpun gue udah lupa. Then I tell Bayam my reason, kenapa gue menggunakan nama dia tanpa izin… lepas dari dia percaya atau nggak sama alasan gue, itu terserah dia sih, but I did my best to fix my fault. Keberatan dia yang utama adalah dia mengira gue punya dendam ke dia, lalu gue membalas dengan menyebar cerita-cerita bohong tentang dia di internet setelah beberapa tahun berlalu. Yang jujur aja, offended me. Do I look like a moron yang nggak paham etika berinternet? Gue mungkin memang menderita kepikunan dini, tapi gue nggak bodoh. Everything was happened accidentaly. Tapi gue cukup tau posisi gue, gue yang salah. Dengan baik-baik gue menjelaskan, I have no heart feeling, nggak pernah punya masalah sama Bayam dan nggak pake acara dendam-dendaman juga. Aduh, ini udah abad 21 loh… masa iya kelakukan gue masih terbelakang begitu? Yang melegakan adalah, Bayam finally accepted my explanation, Bayam did made me signed some sort of contract, yang menyatakan gue nggak akan pernah lagi menggunakan nama dia dalam cerita. Gue menyetujui kontrak tersebut dengan senang hati, secara dari awal semua adalah karena kecerobohan gue, bukan kesengajaan. Again I said am sorry, very sorry karena harus ketemu sama Bayam dalam situasi super kikuk dan super nggak enak kaya gitu, ya siapa juga sih yang mau ketemu sama temen lama karena salah paham? No one. In the end, the problem is fix. Bayam juga nggak pernah lagi menghubungi gue sejak saat itu.
Dear Bayam, dimanapun lo berada sekarang… I hope you doing well, semoga sukses selalu, dan sekali lagi gue minta maaf, my bad.

Tapiiiiii…
Masalah gue nggak berhenti disitu, sejak saat itu gue jadi takut menulis, kebebasan menulis gue semacam terkekang karena gue takut kena masalah lagi. Me and janet felt like we’ve been going through a nightmare. Bayangkan how torturing, to people like us, who always write everything down suddenly nggak bisa menulis lagi karena trauma.
Gimana caranya gue bisa menulis tanpa was-was. The world is small, my man… apa jadinya kalau gue menulis sesuatu yang ternyata sama dengan kejadian yang seseorang pernah alami dan orangnya marah ke gue karena gue semacam menjiplak kisah hidup dia? Atau gimana kalau gue menulis cerita dengan tokoh bernama Budi lalu semua Budi-Budi di Indonesia tersinggung karena gue pakai nama dia tanpa izin? Kalau gitu, gimana caranya gue bisa nulis, jawabannya tentu aja nggak bisa.
Logikanya, bukan cuma gue yang nggak bisa terus menulis, dengan ancaman seperti itu bahkan penulis kawakan yang udah punya 10 judul buku pun akan kesulitan, since everything we write dengan kemungkinan 99% bisa aja ternyata bukan sekedar terjadi di dalam buku, tapi juga terjadi beneran di kehidupan seseorang yang sama sekali nggak kita kenal.
Gue trauma, gue berhenti menulis berbulan-bulan. Gue bahkan menghapus blog gue, yang notabene udah bertahun-tahun gue tulis dan yang dibaca oleh beberapa orang begitu aja.
Intinya, gue kehilangan kepercayaan diri untuk menulis.
Baru beberapa bulan yang lalu, gue membuat blog ini, bener-bener mulai dari awal setelah perdebatan panjang nan sengit dengan diri gue sendiri, should I start to write again? Or shouldn’t?
Tapi kembali ke bagian awal dari posting ini, buat gue menulis itu hobi yang akhir-akhir ini gue sadari bahkan udah berubah menjadi kebutuhan, semacam makan dan minum. So it’s somehow impossible for me to stop doing it.
Jadi gue akan terus menulis, walaupun mutu tulisan gue rendahan, gue akan terus menulis. Rasa was-was di hati sih masih ada, tapi gue merasa gue udah memetik pelajaran berharga dari kesalahan gue, melalui kesulitan yang luar biasa gue belajar satu dan dua hal baru dalam menulis. Thanks to Bayam, yang menjadi media belajar gue.

I’m ready to launch a new project now, still need a longer brainstorming with myself and of course need to not replay the same mistake twice.
Just please wish me luck, I really need it.

No comments:

Post a Comment