Monday, September 16, 2013

#IdeaSwap: "How old is my soul?"

Character cannot be developed in ease and quiet. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, ambition inspired, and success achieved. --Helen Keller
A famous said state that never judge a person by his age, judge by how many hard times he's been survived... dan gue kurang lebih setuju dengan pernyataan itu. But the big question here adalah how can you tell a soul that already survived and a soul that only think they survive but the fact they're not.

From my personal point of view, cara termudah untuk menilai, sekedar menilai aja ya bukan mengetahui benar atau salahnya, adalah dengan melihat apakah orang yang bersangkutan udah bisa menerima apa yang terjadi sama dia dengan diam, hidup bahagia dalam musibahnya, and stop sweating the small stuff yang berhubungan dengan itu.

Contohnya ketika seseorang putus cinta, jangan ngaku-ngaku udah move on kalau ujung-ujungnya lo masih suka sirik dan mendadak jadi orang paling critical ketika ngeliat sesuatu yang ada hubungannya dengan kejadian putus cinta lo. Baru putus sama anak band? Terus begitu ada cowok bawa-bawa gitar lewat, langsung deh sewot macem-macem. Keliatannya sih emang iya lo ga galau, keliatannya udah move on, tapi kenyataannya apa... Lo diam-diam masih merasa hal itu sulit buat lo, cukup sulit sampai lo harus komentar demi meyakinkan diri lo sendiri itu ga penting lagi. Karena ketika lo pada kenyataannya udah berhasil get over it, dalam contoh ini get over your ex, misal ada sesuatu yang mengingatkan lo sama dia lo bakal dengan otomatis diam, bukan malah marah-marah. Katanya udah move on, kok masih bisa marah aja? Belum ikhlas itu sih namanya. ;p
Ya itu sih cuma contoh aja ya, jangan ngomel kalau kesindir...

The point is, kedewasaan itu ga bisa diukur dengan umur. Tua belum berarti dewasa, buktinya masih banyak orang dewasa yang pola pikirnya kekanak-kanakan. In reverse, malah banyak anak-anak yang dewasa sebelum waktunya. Mungkin, karena otak mereka udah kemasukan informasi yang ga layak sebelum waktunya, atau mungkin mereka memang begitu karena beban hidup mereka yang membentuk mereka menjadi seperti itu.

Contohnya... Banyak anak-anak yang terpaksa harus cari uang sendiri, karena orangtua mereka bukan termasuk orang yang mampu. Jadi mereka harus ikut banting tulang hanya demi bisa makan sehari-hari. Pikiran mereka yang harusnya baru diisi dengan belajar dan bersosialisasi udah terpaksa dipakai buat cari akal harus kerja apa, harus gimana biar dapet duit buat makan, dan segudang pikiran berat lainnya. Ditambah kalau orangtua dan lingkungan mereka kurang mendidik, jadinya apa? Anak-anak yang keberatan beban hidup, yang lalu dewasa sebelum waktunya.

Tapi kan dewasa itu baik? Semua yang dipaksakan itu biasanya ga bagus, percaya deh... Karena dewasa pun punya tingkatannya masing-masing.
Kalau umur lo 16 tahun, dewasalah layaknya umur 16 tahun. Mungkin dengan berhenti ngerengek ke orangtua lo tiap minta sesuatu, tau diri umur udah bukan anak kecil lagi. Bukan dengan kedewasaan 16 tahun yang sama pacar udah mikirin mau nikah, yakin masa depan lo segitu doang?
Atau ketika umur lo 21 tahun, mungkin dengan berhenti cemburu-cemburuan sama temen cuma karena perkara temen punya gadget lebih bagus terus kalian jadi musuhan. Masih pantes emang umur kepala dua masih begitu?
Bahkan ketika lo udah berumur 30 tahun dan berkeluarga, jangan masih suka naksir kiri kanan, inget sama cincin kawin lo... Layak ga tingkah masih sok playboy?

Bukan berarti gue menyamaratakan perkembangan jiwa semua orang, bukan... Tapi selalu ada patokan mana yang benar dan mana yang kurang benar.

Terus lo sendiri gimana? Jangan cuma bisa ngomentarin orang lain aja lo!
Gue? Gue juga pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidup gue, bahkan lebih sulit dari beberapa orang lain, bahkan yang pernah gue hadapi adalah situasi yang semua orang selalu bilang "Amit-amit, amit-amit" sambil ketok-ketok kayu.

Seperti yang Helen Keller bilang, ga bakal terbentuk kedewasaan kalau di hidup lo cuma ada tenang dan lurus. Cuma dengan melalui berbagai cobaan dan rasa sakit, rasa kecewa, rasa malu, rasa tertekan maka diri lo bisa jadi lebih kuat, lebih semangat mencapai masa depan yang lebih baik, dan pada akhirnya bisa berhasil.
Jadi jangan malu kalau hidup lo ga semulus orang lain, jangan risau kalau lo merasa kurang dibanding orang lain, jangan takut kalau seolah-olah hidup lo isinya cuma masalah ke masalah lain aja. Inilah hidup lo, jalani aja sebaik yang lo bisa. Buang jauh-jauh pikiran kalau diri lo ga worth it, kalau orang lain akan selalu memandang lo sebelah mata, dan kalau hidup lo bakal begini-begini aja. Dunia itu berputar, begitu juga dengan hidup lo.

Just in case you're wondering what I do with own life so far; All I do is live my best, working on my passion, finish what I need to do, set my eyes on the future, and keep close to my closest people.

So...
How old is my soul? My soul is as old as my age. Ya, I do survive from the ups and downs of my life. Butuh waktu yang ga singkat memang buat bisa ikhlas, menerima semuanya, lalu move on dan berusaha hidup lebih baik dari sebelumnya. Bekasnya masih ada, traumanya belum hilang, tapi bukan alasan untuk gue menolak tumbuh atau malah memaksakan untuk tumbuh lebih cepat.
Just simply... live it.

...Dan ini bukan tulisan yang nulis aja gampang, jalaninnya kan susah! No, I write this based on my own experience and this is what I become today. If I can do it, why can't you?

No comments:

Post a Comment