Friday, October 4, 2013

#IdeaSwap: The Apple Of My Eyes

"Waktu kamu lahir, semua orang nungguin kamu... Tapi ga ada yang lebih deg-degan dari Papa..."
Aku menggeser-geser trackpad Blackberry ku, sepinya malam ini, sedang apa ya anak-anakku disana? Kembali rasa tidak enak yang berlebihan membuncah memenuhi dadaku, sakitnya sampai ke ulu hati. Untuk orang seumurku yang sudah menginjak kepala lima ini menggunakan kata galau sepertinya tidak lagi pantas. Tapi harus kusebut apa lagi rasa rindu dan sepi yang seperti ini, kecuali rasa itu sedikit tercemar oleh rasa kecewa, malu, dan bersalah yang terus-terusan menghantuiku.
Kembali aku memandang kosong ponselku, melihat foto-foto anak-anakku yang kuambil diam-diam dari facebook dan twitter mereka. 
Satu hal yang aku syukuri, walaupun jauh tapi mereka terlihat baik-baik saja dan juga bahagia.

Putri sulungku, masih menyelesaikan kuliahnya di Semarang. Aku jadi teringat percakapanku dengannya beberapa hari yang lalu,


"Skripsi kamu gimana Teh?"

"Lancar Pa, doain aja ya selesai secepatnya...,"

Percakapan kemudian berlanjut, putriku menjelaskan serentetan isi skripsinya yang sebenarnya sama sekali tidak kumengerti apa maksudnya.
Terimakasih Tuhan, Kau memberikan putriku kecerdasan yang berkali-kali lipat dibanding denganku, walaupun pada akhirnya hanya membuatku bingung karena tidak mengerti apa yang dia bicarakan.

Putra bungsuku, tinggal dengan mantan istriku di Jakarta, sekarang menginjak kelas sembilan. Sebentar lagi akan masuk SMA, padahal rasanya baru kemarin aku membelikan seragam putih-merah pertamanya.

"Pa, Adek mau beli game terbaru dong... Boleh?"

"Boleh, berapa harganya? Nanti Papa kirim uangnya ke Mama...,"

Kembali anakku membicarakan hal yang tidak kumengerti, kali ini putraku menjelaskan panjang lebar tentang game terbaru yang ingin dibelinya, lengkap dengan embel-embel janji kalau bermain game tidak akan menggangu jam belajarnya.

Terimakasih lagi Tuhan, Kau memberiku putra yang selalu berusaha memberiku ketenangan, walaupun nantinya pasti aku akan menerima laporan kalau dia lupa mengerjakan PR nya karena keasyikan bermain game.

Maafkan Papa ya Nak...
Cuma ini yang saat ini bisa Papa lakukan dan berikan untuk kalian. Papa tidak bisa memberikan waktu Papa untuk kalian, jadi kalau Papa mengirimkan sedikit uang berlebih pada kalian, jadikan itu hiburan untuk menggantikan kehadiran Papa yang tidak bisa menemani kalian. Papa disini baik-baik saja, doakan Papa selalu sehat ya... Doakan juga Papa selalu dipermudah rejekinya, jadi nanti kita bisa hidup dengan tenang walaupun Papa sudah pensiun bekerja.
Maafkan Papa ya Nak...
Papa ini mungkin adalah contoh bapak yang gagal. Yang bahkan tidak bisa mempertahankan rumah tangganya, yang menyebabkan kalian harus mengalami perceraian yang menyakitkan.

Tapi jangan benci Papa karena hal itu, kalian kan tahu kalau selain kalian, Papa tidak punya siapa-siapa lagi.

Karena buat Papa, hanya kalianlah satu-satunya semangat Papa... yang membuat Papa bersabar menghadapi cobaan bertubi-tubi yang datang silih berganti dalam hidup kita.

Semua yang Papa lakukan, untuk siapa lagi kalau bukan untuk Teteh dan Adek?

Tahu kan, Papa sayang sekali sama kalian...


-----

Yes, it was me talked about my dad's feelings. No, he never told me anything about that.
Because people, sometimes silent is the loudest thing if you want to try to hear a little bit deeper. Even so my dad never describe what's his feeling like, I know him so well that I don't even need him to tell me everything to know about it.

I'm a family girl at heart... I love my dad, I love my mom, I love my brother.
Family can annoy you, smother you, suffocate you until you feel like dying... but I'll take it anytime, death by love can't be that bad.

And the apple of my eyes? They are the apple of my eyes.

No comments:

Post a Comment