Wednesday, April 9, 2014

BALADA SKRIPSI, Part one

Ini mungkin adalah sebuah cerita yang terlambat disampaikan. Seharusnya euphoria skripsi ini terjadi sejak satu setengah tahun yang lalu, dimana normalnya mahasiswa angkatan 2008 macam gue lulus di tahun 2012, bukan di awal 2014 begini.
But since I’m such a strong believer atas paham better late than never, so no regret… terlambat sedikit lebih baik dibanding menyerah dan berhenti begitu saja di tengah jalan.
So where should I start?

Mari kita mundur ke pertengahan tahun 2012, dimana hampir semua teman-teman seangkatan gue, termasuk gue, seperti biasa ngumpul di lobby fakultas dalam rangka bimbingan sekaligus rame-rame ribet input KRS ke sistem online kampus. Masalah waktu itu adalah kebanyakan dari mereka pada stress karena harus mulai mengerjakan skripsi semester itu juga sementara masih ada beberapa mata kuliah yang harus diulang karena nilainya belum juga dirasa memuaskan. Ayo yang mahasiswa tunjuk tangan, kalau lo nggak pernah ngalamin galau model begini, maka sia-sialah masa kuliah kalian wahai anak muda…
Gue, pada saat itu, diam saja. Ceritanya sih stay cool. Padahal nggak tahu saja kalau sebenarnya perasaan gue waktu itu nggak karu-karuan. Sementara mereka stress, gue bisa dikatakan tiga kali lipat lebih stress dibanding mereka semua. Gimana nggak, boro-boro bisa mulai skripsi semester itu, gue barusan ngecek ulang transkrip nilai gue dan menemukan fakta kalau ada sebuah mata kuliah yang terlewatkan, which is kalau gue belum lulus mata kuliah itu jangan harap gue bisa ngambil mata kuliah lanjutannya. Rasanya pengen terjun saja dari lantai tiga kampus gue saat itu juga, tapi nggak jadi... gue belum siap mati konyol.
Jadilah gue dengan gerakan sok tegar, menebar senyum lebar (dan pahit) tiap ada teman gue yang nanya, “Jadi skripsi kapan?” sembari menahan diri biar nggak nusuk semua yang bolak-balik nanya pakai ujung pensil mekanik.
Jangan salah sangka, gue ini jauh dari predikat mahasiswa bodoh... gue cuma, malas. Banget. Akibat malas itu ternyata luar biasa fatal, hobi cabut kuliah membawa sial, nggak cuma gagal lulus di satu atau dua mata kuliah… tapi banyak. Lebih parah lagi ketika gue semakin aktif di organisasi kampus. No, jadi aktivis kampus sama sekali nggak gue sesali, it was a really great experience. Awalnya gue cuma sekedar anggota himpunan mahasiswa yang ngerasa keren banget tiap nongkrong di base camp himpunan, tapi seiring waktu berjalan jabatan gue mulai naik… dari yang cuma seksi konsumsi, jadi seksi publikasi, jadi bendahara, jadi sekretaris, jadi ketua panitia event, sampai akhirnya di awal semester lima gue menduduki posisi ketua organisasi. Sayang perkembangan gue di organisasi nggak diiringi sama keteguhan hati buat rajin kuliah juga. Jadilah kuliah gue semakin ala kadarnya saja.
Untungnya sepanjang kuliah, kemalasan gue diimbangi dengan bukti kalau secara nilai gue nggak pernah bermasalah… kalau boleh sombong, gue salah satu yang dianggap pintar di angkatan gue. Walaupun pintar itu jadi percuma kalau lo malas. Jadilah sejengkel-jengkelnya dosen-dosen gue sama gue karena ngulang-ngulang kuliah mereka mulu, mereka nggak pernah sampai tahap benci dan punya bawaan pengen nendang gue dari kelas mereka saja.
Tapi tetap saja, gimanapun, ngelihat teman-teman gue hampir semuanya mulai sibuk bimbingan sama dosen pembimbing mereka masing-masih itu kenangan pahit yang agak traumatis kalau diingat-ingat.

So there I was, cheered for my friends yang satu demi satu mulai menyelesaikan bimbingan skripsinya. Termasuk membantu mereka kalau ada saja yang minta pendapat ke gue... dalam hati, ada sedikit perasaan, gue sekarang bisa bantuin mereka tapi kalau nanti mereka akhirnya lulus dan giliran gue skripsi… gue harus minta bantuan sama siapa?
Begitu mereka satu demi satu juga akhirnya mulai dapat jadwal sidang, pada waktu itu gue juga dapat jadwal baru… jadwal kuliah semester pendek. Kurang pahit apa coba ini? HAHAHA. Jadi setiap hari mereka gantian, with their white and black uniform ditambah jas almamater, keluar masuk ruang sidang. Gue tetap stay cool.
Gue juga masih ingat jaman teman-teman gue mulai complain satu sama lain soal beberapa teman kita yang obviously sebenarnya nggak layak lulus tapi dengan ajaib entah pakai jampi-jampi apa bisa diluluskan begitu saja oleh beberapa dosen. Di sela-sela gondok dan kesal mereka, ucapan macam “Tau gini kan lo aja mending yang sidang” terulang terus. Ya andaikan proses sidang segampang beli pisang molen di samping kampus ya booook…
Satu sidang yang gue ingat adalah sidangnya Janet, sebuah kesalahan bodoh yang masih gue bahas sampai sekarang ketika dia bengong pas ditanya karya sastra itu apa saja dan bukannya buruan dijawab tapi si anak bodoh itu malah ngelihatin gue, semacam berharapa tiba-tiba bisa telepati. For the sake of mahasiswa sastra Inggris diluar sana yang bakalan sidang dalam waktu dekat, mari diingat-ingat karya sasta itu termasuk puisi, prosa, dan drama ya adik-adik. Jangan kaya’ Kak Janet yang tiba-tiba jadi dodol dan lupa nanti pas di ruang sidang.
Beberapa minggu setelahnya, hari kelulusan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Gue, membuktikan loyalitas sama angkatan gue, ngintil saat mereka gladi bersih. Gue sudah berniat baik hati gitu ya, masih saja mereka jahat Lo-ngapain-ngikut-kesini-in gue. Memang pada kurang ajar. So there was the day ketika gue ditinggal sama teman-teman seangkatan lulus duluan, dan besoknya gue harus ke kampus… sendirian, kali ini menghadapi pertanyaan menjengkelkan yang lain, “Loh Kak, belum lulus ternyata?” tiap ketemu sama adik kelas di kampus.

Di semester baru itu gue akhirnya mulai mengerjakan skripsi gue, masih disambi dengan ngulang-ngulang beberapa mata kuliah yang masih saja gitu harus diulang. Satu kali, dua kali, tiga kali bimbingan gue tiba-tiba stuck di tengah proses masuk bab empat. Bahan skripsi gue adalah novel klasik karangan Charlotte Brӧnte berjudul Jane Eyre dengan pendekatan feminism. Sebenarnya kerangka dari studi pustaka untuk skripsi gue itu sudah selesai sejak bersemester-semester yang lalu, cuma karena lama nggak dijamah, gue tiba-tiba hilang arah… harus gue apakan si Jane Eyre ini? Gue, merasa direpotkan dengan skripsi yang stuck dan kuliah yang ternyata menyita waktu dan tenaga gue lebih dari yang gue perkirakan akhirnya menyerah, gue berhenti ngerjain skripsi gue. Mendadak main petak-umpet sama dosen pembimbing gue, pokoknya tiap ada dia, gue menghilang. Begitu terus sampai akhirnya satu semester kelar, dan tahu-tahu gue sudah masuk ke semester berikutnya saja… masih dengan skripsi yang nggak jelas juntrungannya. Gue mulai berasa nggak enak sama bokap, akhirnya minta maaf sambil nangis-nangis. Bokap gue being a very great dad, sama sekali nggak menekan gue, beliau bilang pelan-pelan saja asal selesai dan hasilnya nggak mengecewakan. Barulah setelah itu gue kapok… no more bolos-bolosan kuliah, no more nunda-nunda beresin skripsi.
Masalahnya adalah, gue nggak tahu harus ngapain sama skripsi gue, gue bahkan nggak punya bahan untuk dibahas. Memang Tuhan selalu memberi petunjuk di saat yang tepat, lebih baik lagi ngasih petunjuknya lewat sebuah Logan Lerman yang tiba-tiba nongol di dashboard tumblr gue, bersebelahan dengan Emma Watson dan Ezra Miller. Berpose dalam poster sebuah film kenamaan Hollywood, The Perks of Being a Wallflower. Nggak nunggu lama-lama, gue langsung cari dan nonton film itu… and there it goes, moment of revelation, gue jatuh cinta sama kisah yang disajikan dalam film itu. Menurut gue, it is, still until today, a hauntingly beautiful story.
Sejujurnya, I have no idea at all kalau film itu ternyata diambil dari sebuah novel berjudul sama. Baru sadar waktu gue keganjenan cari-cari foto Logan Lerman di google dan menemukan sebuah artikel yang isinya perbandingan buku dan film The Perks of Being a Wallflower. Gue, dengan berlebihannya sampai berkaca-kaca langsung download ebook nya, dalam semalam gue menghabiskan buku setebal 230 halaman itu. The book is 17233 times better than the movie, ditambah dengan imaginary indah Lerman, Watson, dan Miller yang membantu gue mengintepretasikan lembar demi lembar novel tersebut di kepala gue.

Begitulah saudara-saudara sekalian, bagaimana gue mendadak mendapat pencerahan yang satu tahun kemudian membawa gue ke moment dimana kucir toga gue akhirnya dipindah dari kiri ke kanan juga. But this story not even start yet… bukan seorang Ulfa namanya kalau hidupnya nggak random dan nggak penuh dengan kebodohan-kebodohan yang bodoh banget.
This was only what happened before I start my thesis…

No comments:

Post a Comment