Friday, April 11, 2014

Love

Beberapa hari yang lalu, out of nowhere seorang teman tiba-tiba cerita tentang bagaimana akhirnya dia memutuskan untuk mencoba berteman dengan salah satu mantan pacarnya. Which is probably a good thing kalau saja memaafkan dan melihat mantan bahagia dan bahagianya bukan dengan kita itu nggak sebegitu menyakitkan dan nggak sebegitu nyebelinnya.
Gue, hingga beberapa saat yang lalu adalah salah satu orang yang sangat sinis kalau memandang soal cinta-cintaan. Karena selama ini gue merasa, what the hell… I’m single and happy, indeed I do, hingga detik ini.
Baru-baru ini juga, gue bertengkar dengan seorang teman yang lain. Mungkin nggak tepat kalau benar-benar dibilang bertengkar sih, lebih ke selisih pendapat. I’ve been friend with her for years. Dari jaman kita masih pakai seragam sekolah sampai kemarin tercetus sebuah kalimat, “Gue harus cari cowok dimana lagi sih ini? I’m tired of dating, gue butuh seseorang yang bisa diajak serius.”
Saat itu gue sadar, wow… this really is a grown up world, teman main gue jaman sekolah akhirnya mengibarkan bendera “siap married” juga. Yang menyebabkan gue merenung tentang betapa ignorant nya gue selama ini. Being single for quiet long time memang bikin gue jadi mandiri dan kuat. Tapi di satu sisi itu juga membuat gue mengambil sisi anti dalam soal pacar-pacaran. Bukan, bukan berarti gue tiba-tiba berubah pikiran dan buru-buru cari pacar dalam waktu dekat ini juga. Hence, itu bukan prioritas gue dalam waktu dekat ini. Hanya saja sepertinya ini sudah waktunya bagi gue untuk sedikit bersimpati sama orang-orang diluar sana yang nggak habis-habisnya ngomong soal cinta macam kalau lo kelamaan sendirian lo bakal mati muda

Is it true that all we need is love? Or love is just something we made up to make us feel better about life?

Bayangkan kalau di dunia ini nggak ada yang namanya cinta. Semua orang hidup sendiri-sendiri dalam rutinitas kesehariannya. Mungkin nggak akan ada yang namanya pernikahan, sex will only exist for the sake of lust and to breed our new generation. This world probably will be a damn cold place to live in.
Gue jadi ingat pernah menonton sebuah film, entah dokumentasi atau malah acara ecek-ecek di TV lokal. Tentang seorang narapidana yang cinta keluarga. Kembali gue mempertanyakan kedalaman emosi manusia. Seseorang yang pekerjaannya adalah membunuh, melakukannya demi bisa membeli sekaleng susu formula untuk anaknya yang masih balita. Kalau sudah begitu, apa masih pantas dia disebut penjahat? Rumit ya memang kalau sudah membicarakan soal perasaan.
Pikiran itu kembali membawa gue ke masalah percintaan dua teman gue.
Yang satu, sudah putus dengan pacarnya bertahun-tahun yang lalu dan akhirnya sampai ke titik dia merasa cukup aman, cukup kuat, dan cukup move on untuk menggeser sedikit status mereka dari mantan ke mantan yang jadi teman. Tapi ternyata hatinya berkata lain, luka yang sudah tertoreh itu nggak bisa bohong… luka yang cukup dalam yang disebabkan oleh hubungan yang dulu berjalan kurang sehat dan berakhir kurang enak itu ternyata belum kering juga. Buat gue pribadi, between me and my exes, akan selalu ada sebuah kompetisi. Kalau kata Samantha Jones di Sex and the City, kompetisi itu namanya “who will die miserably” and I couldn’t agree more. Walaupun terkesan kekanak-kanakan, mari kita akui saja ada sisi dalam diri kita yang seperti itu. Jadi ketika teman gue itu curhat tentang betapa nggak enaknya perasaanya setiap melihat muka dan update si mantan muncul di social media, tanggapan gue cuma satu… Honey, kalau lo bawaannya masih pengen menghunus pedang setiap ada dia, kenapa memaksakan diri untuk tegar dan maksa untuk membuktikan kalau lo baik-baik saja while the truth is you not? Jawabannya pun sederhana saja, “Karena gue nggak enak sama dia. Bukannya kalau gue menghindar dari dia malah kelihatan gue ini masih ada apa-apa?” Yang menurut gue, salah besar. Buat apa sih lo repot-repot mikirin perasaan dia tapi malah nggak peduli sama perasaan lo sendiri. Prinsip gue, selama mantan lo bukan sekaligus bos yang ngasih lo gaji buat makan sehari-hari, then screw him… emang gue pikirin? After that bad break up and you broken my heart into pieces, no way.
Sementara teman gue yang lain, berkali-kali bolak-balik pacaran… kasarannya, semua tipe laki-laki pun sudah pernah dicoba, but still no sign of the prince charming and his white horse whatsoever. Lama kelamaan capek juga kan. Kalau sudah begini, mari kita kembali ke kalimat sakti yang susah dibantah; kalau jodoh nggak akan kemana.

Jangan salah paham, gue menulis sesuatu seperti ini juga bukan karena gue banyak tahu soal laki-laki, perempuan, dan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Yang ada justru gue adalah golongan cupu yang jauh dari dunia kencan-kencanan. As you might know… gue berhijab dan hijab gue membentengi gue dari semua perilaku metropolis yang nyerempet-nyerempet Hollywood itu. I ain’t Carrie Bradshaw. But yeah, still I know one or two things about relationship, not exactly an expert, but hey at least I’m a good observer. I observed, that’s how I know things.

So here I am, a single girl who never been in a successful relationship… brave myself to write something about love. I used to be a cynical one, tipe-tipe sok kuat yang serba meremehkan semua yang berhubungan dengan cinta-cintaan. While deep in my heart, I’m a lover and hopeless romantic… in disguise.

No comments:

Post a Comment