Tuesday, April 29, 2014

Where Do We Begin? How Do We End?

Harusnya sore hari yang mendung ini gue isi dengan mulai drafting PR yang harus gue kumpulkan dalam waktu dekat ini. Tapi, ya namanya juga gue… seringkali ketika harus ngerjain sesuatu malah ide mampet dan stuck nggak tau harus gimana. Jadi daripada gue buang-buang waktu dengan guling-guling di kasur biar dapat ide tapi malah berakhir dengan ketiduran, let’s break the ice with another ice. Okay, not exactly a right metaphor… intinya sambil menunggu ide yang lain datang, why don’t I write another idea instead.
Di book of idea gue, yang tertulis di bawah judul ini adalah, talking about how I planning (hoping?) my future will be like. As a starter, gue sekarang sudah kembali ke haribaan ibukota Jakarta tercinta. Kembali ke kampung halaman yang sudah gue tinggalkan sejak gue masuk sekolah dasar dulu. Menghabiskan enam tahun di Sumatra dan dua belas tahun berikutnya di Jawa Tengah, kota kelahiran gue ini hampir-hampir nggak gue kenal. Terbukti dengan dua minggu sejak pulang kemarin gue tiba-tiba menjelma jadi anak rumahan. Bukaaaan, bukan perkara Ulfa tahu-tahu tobat… perkaranya adalah, Ulfa nggak tahu jalan sodara sekalian. Karena itu gue jadi nggak bisa dan terpaksa malas kemana-mana.
Ditambah memang pindah itu selalu menuntut kita buat beradaptasi ulang. Ini juga jadi masalah buat gue, karena gue adalah tipikal orang yang agak lelet beradaptasi di tempat baru. Terutama rumah baru. Kalau kata teman gue, gue ini sedikit kaya’ Monica Geller di Friends yang obsessive-compulsive sama apartemennya. So am I, gue bisa uring-uringan kalau tempat gue tinggal nggak sesuai dengan yang gue mau. Tapi berhubung for a meantime gue masih numpang di rumah nenek sambil menunggu dapat rumah sendiri, can you imagine how frustrated I am because I have to take the place as it is? That’s why it takes me even longer time to adapt with everything. Baru akhir-akhir gue mulai bisa terbiasa dan kembali beraktifitas normal lagi.

Jadi gimana kabar gue, I’m fine… Alhamdulillah, sehat dan masih nganggur saja tiap hari. Atau mari kita rubah istilahnya menjadi lebih berkelas… Alhamdulillah, sehat dan masih job seeker saja nih Sis.
Another fun trivia about me (sorry, have no idea that I’ll talk about myself this much in this post) I am that kind of people yang suka jadiin tanggal, hari, dan satuan waktu apapun buat jadi patokan banyak hal dalam keseharian, even kehidupan gue. Mari mulai dari contoh yang paling nggak penting; gue selalu update aplikasi di handphone dan tab gue setiap hari Jumat, jangan tanya alasannya… I have no idea either, I also do a face scrub once every two days start in Tuesday and do a face mask once a week in Sunday, then in Saturday I usually go to iTunes to download any new album that release during that week. Kalau yang kecil-kecil begitu saja nggak pernah nggak ter-schedule maka bisa dibayangkan gimana dengan yang besar-besarnya. Kehebohan juga selalu terjadi menjelang akhir bulan, dimana gue selalu rearrange apapun yang terlewat di bulan itu untuk dilakukan di bulan depannya… dan berhubung hari ini sudah termasuk akhir bulan, itu yang bikin gue nggak bisa nulis contoh tulisan yang akan gue masukin ke portfolio lamaran kerja gue dan malah menulis sesuatu yang lain sama sekali karena otak gue penuh dengan harus-ini-harus-itu-thingy.
Also, kurang dari lima detik yang lalu gue tiba-tiba memutuskan draft portfolio itu ada bagusnya ditulis nanti setelah masuk bulan Mei saja. See, me and my very scheduled brain… not to mention it is eventually a form of never ending procrastination.

So yeah, this is me… where I begin my new life after graduating. Pindah kota, pindah rumah… meninggalkan zona aman sih yang jelas. And how do I’ll end? Itu sih biar jadi rahasia alam semesta saja, gue sebagai pelakonnya hanya bisa merancang dan melakukan yang gue pikir baik buat diri gue sendiri di masa depan nanti. It’s pretty standard… Get a good job, being a sudden workaholic, meet a good man and maybe consider to have a serious relationship with him, and live the rest of my life happily ever after. Mungkin jika beruntung hidup gue bisa berjalan semulus itu.

Here we are live in the world with endless probability where we will never know.
So where do you begin? How do you end?

No comments:

Post a Comment