Sunday, June 15, 2014

Are You My Somewhere?

Mari salahkan saja hujan yang turun terus-menerus di hari Minggu ini, menyebabkan banyak jiwa tiba-tiba kumat romantisnya, atau galaunya, atau filosofisnya.

Semua orang pasti mengalami momen dimana kita mengarang sebuah skenario indah nan sempurna dalam kepala masing-masing. Umum terjadi menjelang tidur ketika mata, badan, dan otak suka mendadak nggak nyambung. Mata susah sekali terpejam, badan rasanya remuk redam, tapi otak seolah-olah nggak bisa berhenti berputar dan beristirahat.
Saat seperti ini biasanya even orang yang nggak suka berkhayal akan otomatis memainkan sebuah rekaan antah-berantah di kepalanya.
Beberapa mungkin terinspirasi dari kisah dalam novel-novel favoritnya, beberapa teringat dari film yang baru saja ditonton kemarin hari, dan beberapa malah akan mengarang bebas… those so called perfect life that he/she probably will never have.

Walaupun terkesan nggak penting, khayalan tersebut menandakan bahwa kita hidup. Kita masih punya asa untuk berharap somehow our life can be better. It’s a good sign, right?

Tulisan hari ini membawa gue ke sebuah ingatan beberapa tahun silam, when I was much younger than I am today. Skenario favorit gue untuk diputar sebelum tidur dulu adalah me, living in a big house with a private swimming pool… kerjaan gue seharian cuma sekolah, main sama kucing peliharaan kesayangan, dan jadi anak mama dan papa yang baik.
Tapi sekarang telak itu semua cuma khayalan. I live in a comfortable house, but it’s not palace-like and no swimming pool whatsoever. Gue juga jelas-jelas nggak memelihara kucing, karena gue ternyata takut sama makhluk lucu satu itu. Yang terakhir, gue memang menjadi anak baik buat orangtua gue… tapi dengan kondisi orangtua dan keluarga yang sama sekali nggak pernah gue bayangkan.

Lalu sekarang, sedikit TMI… skenario sebelum tidur gue sudah mulai agak-agak 18 tahun keatas. It’s now all about my dream job and my future serious relationship. Reality really slap me in the face, how old I actually am to finally think about those things? Then reality slap me in the face (again), you’re 23 going to 24 for a God sake, said it out loud.
Hanya saja kali ini setelah belajar dari pengalaman, skenario sebelum tidur itu nggak lagi lebay-lebay banget seperti dulu. Dalam kesempurnaan khayalan itu terselip sedikit realita… which is also a good sign, tanda kalau si pengkhayal sudah semakin dewasa. Khayalannya pun sekarang nggak lagi sempurna.
But I can’t help thinking now… everytime something or someone happen to my life, pertanyaan yang sama selalu menggema dalam pikiran;
Are you my somewhere?
Apakah tempat yang menjadi tempat tinggal gue sekarang akan menjadi tempat tinggal gue selamanya? Apakah orang yang dekat dengan gue sekarang adalah orang yang selamanya akan menjadi begitu? Apakah yang gue kerjakan sekarang akan menjadi pekerjaan gue selamanya?
Apakah gue akan berakhir seperti ini atau seperti itu?

Mempertanyakan kehidupan itu memang menyenangkan dan melelahkan dalam waktu yang bersamaan. Because life is full of surprises, we never know where the road will bring us to.
Cara mudahnya tentu saja kita harus menjalani saja apa yang sudah disediakan. Tapi namanya manusia, ‘are you my somewhere?’ pastilah menjadi pernyataan yang selalu menghantui… ada kalanya kita berharap jawabannya yes, atau malah berdoa keras-keras dalam hari supaya jawabannya adalah no.

Everybody have their own version of ”my somewhere”, and that somewhere sekarang menjadi bagian dari skenario sebelum tidur kita… hanya saja itu bukan lagi sekedar khayalan kosong tentang senang-senang melainkan sudah menjadi sesuatu yang dipikirkan karena harus diperjuangkan.
Hidup dan bagaimana ia mendewasakan manusia.

No comments:

Post a Comment