Monday, March 23, 2015

An Audition

Halooo, selamat siang!
I'm now currently sitting at fast food restaurant while waiting for a friend of mind finish her turn on an audition.
Dan ngomong-ngomong soal audisi, berhubung gue kelupaan banget bawa buku buat dibaca sambil nunggu, jadilah gue cari-cari kesibukan... so I open my eyes, my ears, and my mind to observe people around me. Dan kebetulan banyak orang menarik disini.
Salah satunya adalah sepasang ibu dan anaknya yang duduk di sebelah gue, dari tag bertulisan nomer urut di dadanya, si anak nampaknya juga baru kelar audisi.
"Ma, aku nervous banget tadi... suara aku pas nyanyi jadi kemana-mana," cerita si anak dengan nada kecewa.
"Jelek banget emang? Tadi waktu latihan di mobil bagus-bagus saja kok Mama dengernya...", si ibu menenangkan.
"Yakin banget sih ini aku nggak dapet," (lolos audisinya) kata si anak lagi.
"Ih, ya sudah nggak apa-apa... namanya juga orang usaha, sekali atau dua kali gagal kan biasa."

Gue sudah mulai terharu sih itu, sampai tiba-tiba ada dua anak kecil yang lagi main kejar-kejaran ngejerit kenceng banget di belakang gue. Nggak cuma kaget, kuping gue pun langsung berdenging-denging.
Itu anak-anak mau gue jejelin siomay panas saja biar diam, tapi gue takut disikut nyokapnya.........

Balik lagi ke soal audisi. Selama ini gue cuma pernah lihat audisi-audisian ini dari TV, lengkap dengan cerita penuh drama dan menggugah. Dasar reality show.
Tapi menyaksikan langsung sendiri seperti ini, rasanya sama saja ternyata.

I see a lot of dreams here today.

Bisa jadi mungkin beberapa dari mereka cuma iseng coba-coba berhadiah. Tapi ada juga yang 100% sungguh-sungguh, terlihat dari gerak-gerik mereka yang super gugup.
Dan gue, being such a realistic person, can't help thinking... dari ratusan orang ini, cuma akan berapa sih yang akan terpilih? Dan kalaupun sudah terpilih, cuma akan berapa yang sukses?
Lalu ketika mereka gagal, ada berapa yang masih gigih pantang menyerah untuk tetap mengejar impian mereka di audisi-audisi berikutnya? Dan berapa sisanya yang hilang asa lalu menyerah?

So on other note, isn't life = audition?
I mean... we fight for our place in the world. Some will made it, some will not. Some will keep fighting, some will give up.
Ada juga yang dalam proses audisinya lebih suka nyinyirin orang lain dibanding mengoreksi dirinya sendiri. Ada juga yang belum apa-apa sudah mendiskredit diri sendiri, merasa sudah jelas dia yang paling buruk dan pasti nggak akan berhasil.
Dan dalam sebuah audisi, kita pasti selalu berusaha menampilkan yang terbaik supaya bisa lolos. Hidup juga begitu kan? Akan ada waktunya kita mati-matian menjadi versi terbaik dari diri kita, mungkin untuk mendapatkan pekerjaan impian? Pasangan impian? Dan impian-impian lainnya?

So guys, how's your audition going so far? Is it good? Are you sure you gonna get that part? Or else, maybe we're just not give our best yet.

Monday, March 9, 2015

"Twitvoritare 2" : The Journey Towards a Happy Ending


Bisa menciptakan karakter fiksi yang sukses membuat orang-orang merasa impossible kalau mereka nggak beneran ada itu membuktikan betapa powerfull nya kemampuan menulis Ika Natassa—the author.
Gue sendiri sudah mengikuti dan termasuk penggemar berat Ika Natassa sejak lumayan lama. Masih ingat pertama kali membaca buku-bukunya—gue waktu itu beli sekaligus dalam bentuk box set berisi A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Antologi Rasa, dan Twitvortiare—langsung jatuh cinta gila-gilaan sama karakter-karakter ciptaannya. My favorite is Keara from Antologi Rasa.

But this time let's talk further about Twitvortiare, Alexandra, dan Beno... oh, dan si baby Arga!

"Twitvortiare 2" tentu saja sequel yang dinanti-nanti dan nggak diduga-duga akan terbit sebenarnya. Walaupun pasca Twitvortiare yang sebelumnya, kita nggak kehilangan sosok Alex sama sekali, yang ada karakter Alex dan Beno itu semakin hidup dan semakin menjadi-jadi. Entahlah sudah berapa ratus orang yang berujung delusional (baca: kebelet nikah dan kepengen punya suami dokter yang brewokan) berkat cara Ika Natassa melanjutkan cerita tentang ultimate fictional couple ini via twitter.
Suatu hari Alexandra dan Beno mungkin akan jadi legenda dalam dunia twitter Indonesia. 
Nah, Twitvortiare 2 ini hadir layaknya rangkuman dari kemajuan cerita Alex dan Beno sejak terakhir mereka hadir di novel sebelumnya. Untuk yang sudah follow @alexandrarheaw di twitter, sudah pasti hapal betul isi buku ini bahkan sebelum kelar dibaca.
Tapi bagi yang newbie dalam dunia Divortiare dan Twitvortiare, let me spoil the story a little...
Alex dan Beno ini adalah dua orang yang pernah menikah lalu bercerai. Cerita di Divortiare dimulai dengan kegelisahan besar; sudah berpisah, tapi ternyata masih cinta. Sejak itu kita khusyuk mengikuti ups and downs nya hubungan Alex dan Beno. Alex, perempuan yang mungkin adalah bayangan sosok ideal semua orang akan perempuan jaman sekarang (termasuk gue) bikin kita sirik-sirik suka sama kelakuan dia yang witty dan terkadang arogan. Beno, pak dokter bedah yang konon katanya ganteng banget tapi—mencomot istilahnya Alex—lempeng, sedikit bitter, dan sulit mengungkapkan perasaan. Dua orang yang tampaknya mustahil buat bisa bersatu ini, terbukti dengan gagalnya pernikahan pertama mereka, setelah melalui cobaan dan ujian yang demikian bikin emosi naik-turun itu akhirnya against all odds, mungkin memang jodoh, menikah kembali. Lalu di Twitvortiare, kita disuguhkan bagaimana mereka menjalani rumah tangga kedua mereka, masih dengan orang yang sama tapi dengan determinasi yang berbeda; this time it's gonna last. Sangat terlihat bagaimana di Divortiare gesekan antara Alex dan Beno sangat tidak sehat dan bikin pusing yang baca. Di Twitvortiare ini mulai dikurang-kurangin. Mereka mulai belajar, dan sukses... dalam berkompromi dengan satu sama lain.
Dan di Twitvortiare 2, garis besarnya hanya satu; Alex and Beno and the baby. Bagaimana Alex hampir putus asa untuk mencoba hamil, bagaimana Beno menguatkan. Bagaimana Alex menyeimbangkan karirnya dengan kewajiban mengurus suami, bagaimana Beno masih hobi ngabsen istrinya sepuluh kali sehari. Bagaimana Alex dan Beno saling mengisi keseharian bersama-sama walaupun saat itu mereka masih berdua saja. Bagaimana ketika mereka akhirnya hamil dan perjalanan sembilan bulan yang susah-susah gampang. Dan bagaimana transformasi Alex dan Beno menjadi sosok ibu dan ayah yang sempurna untuk anak mereka.

Intinya sih... dan gue yakin penggemar Alex dan Beno yang lain juga setuju, untuk yang belum menikah, cerita mereka pasti bikin kita pengen rajin-rajin shalat malam dan berdoa biar segera dipertemukan sama jodoh dan dilamar biar buruan married. Untuk yang sudah menikah, mungkin efeknya pengen bikin rumah tangga semakin ideal macam Alex dan Beno gitu kali ya?

Tadinya gue berniat menulis review lengkap dengan bocoran-bocoran ceritanya. But this series is too good, I think it's better if you read it by yourself.
Sebagai penutup posting ini, sebaris quote dari halaman terakhir Twitvortiare 2, yang masih nyangkut di kepala gue padahal selesai bacanya sudah berhari-hari yang lalu;

"...It makes me believe that we all get our happy endings. Eventually."

We Can Do It!

Sedikit telat menulis post kali ini karena tanggal 8 Maret sudah lewat, tapi momentum setahun sekali ini rasa-rasanya sayang untuk dilewatkan. Sebagai perempuan dan terutama, perempuan yang memiliki media untuk menyuarakan isi kepalanya melalui media sosial, sepertinya memang paling tepat kalau gue ikut andil dalam awareness tentang eksistensi perempuan di dunia ini--yang tidak lagi merupakan masyarakat kelas dua.
Perempuan, diciptakan dengan segala kemampuan yang tidak dimiliki oleh laki-laki. Sudah pernah dengar kan kalau perempuan itu adalah multitasker paling oke di dunia? Yes, we have the ability to juggling between works, raise our children, and taking care of our family. Dan itu baru jenis multitask yang biasa-biasa saja.
Orang-orang yang jaman sekarang masih menganggap bahwa perempuan itu tempatnya cuma di dapur dan di tempat tidur sungguh patut ditertawakan. Ya, memang itu adalah tugasnya perempuan. Mengurus suami, mengurus rumah, mengurus anak adalah kewajiban kita pada akhirnya bagaimanapun suksesnya kita dalam karir dan dalam berkegiatan di luar rumah. Tapi bukan berarti kita lantas tidak diberikan tempat untuk melakukan hal lainnya. Because we can.


So for all women out there, and young girls too... don't be afraid to pursue anything you want to do. Nobody say it's gonnna be easy, but no one have the right to say it's impossible too. We are our own hero. Jadilah perempuan yang memberikan banyak manfaat untuk lingkungan sekitarnya. Yang penyayang, yang lemah lembut, yang cantik, yang cerdas, yang sehat, yang selalu berpikiran jauh ke depan, dan yang tidak takut menghadapi tantangan apapun yang diberikan hidup pada kita. Karena sekali lagi, we can do it!