Monday, March 9, 2015

"Twitvoritare 2" : The Journey Towards a Happy Ending


Bisa menciptakan karakter fiksi yang sukses membuat orang-orang merasa impossible kalau mereka nggak beneran ada itu membuktikan betapa powerfull nya kemampuan menulis Ika Natassa—the author.
Gue sendiri sudah mengikuti dan termasuk penggemar berat Ika Natassa sejak lumayan lama. Masih ingat pertama kali membaca buku-bukunya—gue waktu itu beli sekaligus dalam bentuk box set berisi A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Antologi Rasa, dan Twitvortiare—langsung jatuh cinta gila-gilaan sama karakter-karakter ciptaannya. My favorite is Keara from Antologi Rasa.

But this time let's talk further about Twitvortiare, Alexandra, dan Beno... oh, dan si baby Arga!

"Twitvortiare 2" tentu saja sequel yang dinanti-nanti dan nggak diduga-duga akan terbit sebenarnya. Walaupun pasca Twitvortiare yang sebelumnya, kita nggak kehilangan sosok Alex sama sekali, yang ada karakter Alex dan Beno itu semakin hidup dan semakin menjadi-jadi. Entahlah sudah berapa ratus orang yang berujung delusional (baca: kebelet nikah dan kepengen punya suami dokter yang brewokan) berkat cara Ika Natassa melanjutkan cerita tentang ultimate fictional couple ini via twitter.
Suatu hari Alexandra dan Beno mungkin akan jadi legenda dalam dunia twitter Indonesia. 
Nah, Twitvortiare 2 ini hadir layaknya rangkuman dari kemajuan cerita Alex dan Beno sejak terakhir mereka hadir di novel sebelumnya. Untuk yang sudah follow @alexandrarheaw di twitter, sudah pasti hapal betul isi buku ini bahkan sebelum kelar dibaca.
Tapi bagi yang newbie dalam dunia Divortiare dan Twitvortiare, let me spoil the story a little...
Alex dan Beno ini adalah dua orang yang pernah menikah lalu bercerai. Cerita di Divortiare dimulai dengan kegelisahan besar; sudah berpisah, tapi ternyata masih cinta. Sejak itu kita khusyuk mengikuti ups and downs nya hubungan Alex dan Beno. Alex, perempuan yang mungkin adalah bayangan sosok ideal semua orang akan perempuan jaman sekarang (termasuk gue) bikin kita sirik-sirik suka sama kelakuan dia yang witty dan terkadang arogan. Beno, pak dokter bedah yang konon katanya ganteng banget tapi—mencomot istilahnya Alex—lempeng, sedikit bitter, dan sulit mengungkapkan perasaan. Dua orang yang tampaknya mustahil buat bisa bersatu ini, terbukti dengan gagalnya pernikahan pertama mereka, setelah melalui cobaan dan ujian yang demikian bikin emosi naik-turun itu akhirnya against all odds, mungkin memang jodoh, menikah kembali. Lalu di Twitvortiare, kita disuguhkan bagaimana mereka menjalani rumah tangga kedua mereka, masih dengan orang yang sama tapi dengan determinasi yang berbeda; this time it's gonna last. Sangat terlihat bagaimana di Divortiare gesekan antara Alex dan Beno sangat tidak sehat dan bikin pusing yang baca. Di Twitvortiare ini mulai dikurang-kurangin. Mereka mulai belajar, dan sukses... dalam berkompromi dengan satu sama lain.
Dan di Twitvortiare 2, garis besarnya hanya satu; Alex and Beno and the baby. Bagaimana Alex hampir putus asa untuk mencoba hamil, bagaimana Beno menguatkan. Bagaimana Alex menyeimbangkan karirnya dengan kewajiban mengurus suami, bagaimana Beno masih hobi ngabsen istrinya sepuluh kali sehari. Bagaimana Alex dan Beno saling mengisi keseharian bersama-sama walaupun saat itu mereka masih berdua saja. Bagaimana ketika mereka akhirnya hamil dan perjalanan sembilan bulan yang susah-susah gampang. Dan bagaimana transformasi Alex dan Beno menjadi sosok ibu dan ayah yang sempurna untuk anak mereka.

Intinya sih... dan gue yakin penggemar Alex dan Beno yang lain juga setuju, untuk yang belum menikah, cerita mereka pasti bikin kita pengen rajin-rajin shalat malam dan berdoa biar segera dipertemukan sama jodoh dan dilamar biar buruan married. Untuk yang sudah menikah, mungkin efeknya pengen bikin rumah tangga semakin ideal macam Alex dan Beno gitu kali ya?

Tadinya gue berniat menulis review lengkap dengan bocoran-bocoran ceritanya. But this series is too good, I think it's better if you read it by yourself.
Sebagai penutup posting ini, sebaris quote dari halaman terakhir Twitvortiare 2, yang masih nyangkut di kepala gue padahal selesai bacanya sudah berhari-hari yang lalu;

"...It makes me believe that we all get our happy endings. Eventually."

No comments:

Post a Comment