Monday, January 4, 2016

Blogging Plan

Awal tahun 2007, saat itu blog adalah salah satu fenomena yang baru musim di Indonesia. Di tahun itu kayanya nggak ada orang yang memiliki kemewahan akses internet yang nggak punya blog, lepas dari benar-benar bisa mengisi blog mereka dengan baik dan benar atau nggak. It’s somewhat become a new trend, having an online diary where you share your private life to the whole internet world (before the era of instant social media kicked in, of course.)
Gue adalah salah satu yang bisa dibilang terlambat ikut-ikutan terkena demam blogging. Baru di sekitar pertengahan 2008 gue membuka blog page, my very own blog page yang gue ingat waktu itu gue lakukan atas dasar bosan di pertengahan libur panjang setelah kelulusan SMA menuju hari mulai kuliah yang sangat ditunggu-tunggu. Daripada nggak ada kegiatan, I have plenty of time to kill dan juga punya sinyal internet yang selama ini cuma dipakai untuk browsing ini-itu saja—which is still absurd for me, to realize that I survived life before a rapid internet grow.
Dan setelah membuka blog pribadi gue untuk pertama kalinya, I found a new world… dunia yang nggak gue sangka-sangka akan menjadi passion gue. Di awal masa blogging, kebanyakan yang gue posting adalah curahan hati yang setelah gue pikir-pikir dan rasa-rasa sekarang, agaknya sangat kurang di-filter. LOL.
Untuk kebanyakan orang, blog cepat kehilangan keseruannya karena cenderung sulit di-manage. True, that. Pertama, untuk bisa efektif nge-blog kita harus bisa menulis, itu harga mati… blog tidak sama dengan social media sejenis Facebook atau Twitter yang cukup diisi dengan sepatah, dua patah kalimat saja. Selain itu, keterampilan mengolah gambar dan foto juga penting, because most people need a visual aid to enchant them. Hal lain yang menambah ribetnya blogging adalah perkara membuat layout blog page kita menjadi menarik, so it’ll cost most blogger at least a minimum knowledge about HTML and stuff. Dan yang paling penting, konten.
Yang terakhir ini gue, jujur saja, bahkan setelah hampir delapan tahun berkutat dengan blogging, masih belum juga menguasai ilmunya.
Masalah gue cuma satu, produktivitas blogging bergantung pada mood… dan mood tersebut kadang datangnya sebulan sekali, kadang dengan extreme-nya malah berbulan-bulan sekali.
But then again, pembelaan gue selalu sama, meh… I’m not even a professional blogger, kenapa juga harus ngotot update blogger regularly? Jadi dengan modal cuek bebek begitu, tanpa terasa bertahun-tahun berlalu dan gue masih saja terobsesi dengan blogging—meskipun jarang-jarang.
What I love the most about blogging is the idea of how simple it is for us to afford our personal space in this big, big internet universe. It’s free, even. Dan satu alasan sederhana lainnya, gue suka menulis. Gue nggak pernah menyebut diri gue penulis sih, hanya seseorang yang kebetulan suka dan bisa menulis saja… gue bahkan nggak cukup percaya diri menyebut diri gue blogger, considering my obvious slackness in blogging a new post. Instead I use my own term, a blah-ger. Because that’s what I do in my blog, just rambling about whatever I want, blah-blah-blah.
But it’s fun… even after years passing by, it’s still fun.

Dulu, gue sempat memindahkan rumah blog gue ke blog handle sebelah… ya, di awal-awal mulai menekuni blog memang gue semacam blogger nomaden yang tukang pindah-pindah alamat blog. Sampai enam tahun yang lalu gue settle di satu alamat blog, yang kemudian, shockingly and unexpectedly mengundang banyak pembaca. Hanya saja, to the certain situation yang nggak perlu dibahas, gue akhirnya (dengan sangat berat hati) menutup blog kebanggaan gue tersebut.
Setelah itu gue sempat ogah nge-blog lagi, semacam semangatnya sudah hilang separuh… dan juga, saat itu blogging bukan lagi sesuatu yang hits, memulai dari awal pasti akan susah sekali, begitu pikir gue.
But then again, setelah sekian bulan hiatus dari dunia blogging, I started to miss it. Kangen rasanya bisa cerita panjang lebar di blog, bisa berbagi isi kepala gue dengan seisi internet. So I start weighing the pros and cons of creating a brand new blog—with new address, new layout, new contain, and new writing style. Long story short, akhirnya lahirlah Le Retenoire tepat tanggal tiga kemarin, tiga tahun yang lalu.

Well, this blog is no hot-shot kind of blog seperti blog gue yang sebelumnya. But I love writing it anyway, the process of curating what’s inside my brain into a good flow of paragraphs soothe me… I don’t care if no one reading my blog, as long as I can write here, I’m happy.
For many people, drawing, listening to music, doing yoga, or even shopping are their therapies. For me, writing is… Le Retenoire has become my own Pensieve. Like how Professor Dumbledore pours out his mind into the Pensieve, then this is my Pensieve; the place where I can save all the thoughts and memories that crammed my mind, so someday in the future I can read it and remember. I even already passed the phase where I feel kind of ashamed for sharing so many personal stuff here… now? What the hell, this is my blog, as long as I manage to curate it pleasantly, why should I hide my feeling from the world?

So, happy birthday Le Retenoire… I know you’re actually just a tiny part of the World Wide Web, but for me, you’re a very big part of my world. Wait, do I look like an insane moron having a one-way conversation with my blog? But yeah, thank you for become my faithful listener and thank you for making me feel cool, having you as my blog.


------------------------------------------------------------
"Each word I write drops a little more of me onto the page.
In time, I will be the book, the book will be me, and the story
will be told."
Very Short Story

No comments:

Post a Comment