Wednesday, April 13, 2016

An Unimaginative Storyteller

Sepanjang hidup gue, ada lebih dari tiga orang yang mengatakan kalau membaca tulisan gue adalah hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Tentu saja, pujian tersebut cukup membuat gue besar kepala.
Dan sepanjang hidup gue juga, gue sudah mencoba menulis banyak sekali cerita. Dari cerita iseng-iseng yang ditulis di selembaran kertas yang diambil dari bagian tengah buku sampai beberapa cerita yang di-publish di blog—dengan percaya diri diperuntukan buat dibaca seisi dunia.
Pengalaman dan cerita kurang enak soal menulis pun gak kurang-kurang dan ada bermacam-macam, dari yang sekedar tiba-tiba terserang writer's block berkepanjangan sampai tertimpa kejadian yang nggak enak beneran.
Kesenangan gue dalam menulis semakin menjadi ketika gue dekat dengan seorang teman yang hingga detik ini masih menjadi partner and my biggest critic in writing. It have been a one hell of a ride we've through together as a writing-friend.
Nggak usah ditanya berapa banyak waktu yang kami habiskan untuk membahas project menulis kami; hours, days, years! Dan nggak usah ditanya berapa judul cerita yang tidak selesai kami tulis dan dengan berat hati harus berhenti ditulis di tengah jalan. Lengkap dengan rasa bersalah yang berkepanjangan dan air mata berderai-derai.
Masalah dan halangan gue dalam menulis sebenarnya hanya satu: gue bukan orang yang pandai berandai-andai. In a way, I can tell a story but I can't make a story. An unimaginative storyteller indeed.
Jadi, setelah (entah untuk keberapa kalinya) I'm scrapping out yet another unfinished story and basically thinking out loud, can I actually write anything like at all? My answer is, yes, I can. At least my personal blog is alive and well taken care of. Yang membawa gue ke pertanyaan selanjutnya, lalu kenapa tiap menulis cerita fiksi nggak pernah beres ya? Dan akhirnya gue harus mengakui, dammit, I'm no fiction writer. I'm just a writer.
But still, I want to write something outside my usual writing—the regular stuff I posted on the blog. Dan jawaban kemudian datang dengan gilang-gemilang; I'm gonna write about myself! Of course, it's gonna be a fiction *wink, wink* but since the story I'm gonna tell is about me, my people, my life, my foe, my love, my everything... I won't face that stuck feeling and confusion about what to write. I'm writing me!
Jadi dengan itu, gue akhirnya merubah total format dan design Girls With Tales, my other blog yang memang dibuat spesial untuk diisi dengan cerita fiksi. Dan kebetulan juga, my co-writer on GWT, has been face the same writer's block for a while too... sehingga ketika gue mencetuskan soal re-writing my old story and change it into a whole new one, she said that she seems to need a fresh start too. Lalu resmilah GWT dirombak ulang, dan cerita-cerita baru kami sudah di-launching beberapa hari yang lalu. New look, new stories. A legit fresh start.
And I can't pictures how excited I am about my story, Future Hearts. Yeah, the title must be sounds familiar, it's the title of one of All Time Low album that I use because I feel a strong connection with the sentiment behind it.

It's sort of an ode to the mindset we've had doing this over the years. We've always been looking ahead and we've always been looking to the future. Everytime we've had a misstep, rather than freaking out and not being able to recover, we've always looked to what's the next thing to do. I think that Future Hearts was just kind of a way to brand it, to figure out a way to sum that up. "
Source: fuse, http://www.fuse.tv/2015/04/all-time-low-interview-future-hearts

I hope this one can be my ultimate project that can be continual and last long, at least long enough for me to end the story right.
Please, do visit my other blog and read the story, it's written right from our heart, so we're not only writing it... we love it deeply!

Monday, April 4, 2016

Seeing Parents As Human

Belakangan ini, tiba-tiba hidup gue dikejutkan dengan banyak sekali pelajaran hidup yang tidak diduga datangnya. Kalau mau diceritakan semua, fix, bisa-bisa blog ini akan resmi berubah judul menjadi Ulfa Dzikriya: A Biography.
Tapi ada satu hal yang paling membekas di ingatan gue. The story of me and my parents.
Hubungan gue dengan orangtua gue tidak bisa tepat dibilang mulus-mulus saja, tapi tidak bisa juga didramatisir dengan melabelinya sebagai hubungan yang penuh lika-liku. Pada dasarnya hubungan gue dan orangtua gue sama menyenangkannya dan sama ribetnya dengan hubungan orang lain dan orangtua mereka pada umumnya.
Mungkin yang membedakan adalah fase dan proses gue menyadari kalau orangtua gue sama manusianya dengan gue yang baru gue rasakan belakangan ini.
Gue, adalah seorang anak rumahan yang cenderung menurut pada peraturan yang berlaku di rumah orangtua gue. Sepenuhnya sadar diri kalau rumah tersebut adalah rumah mereka dan gue cuma numpang, so I must live by their rules.
Masa-masa bandel? Oh, tentu saja masa itu pernah dilalui juga. Kenakalan remaja pada umumnya; coba-coba merokok lalu ketahuan si Papa, contohnya. Atau lagi pacaran di teras lalu ketahuan sedang cium-cium pipi si pacar oleh Mama juga pernah. But I never been a naughty daughter, ever. Keras kepala dan selalu punya prinsip sendiri, iya. Tapi selalu jauh dari ribut-ribut besar sama orangtua sendiri. Amit-amit, jangan sampai deh ya...

Sampai setahun belakangan ini, gue tiba-tiba banyak dibuat menangis oleh orangtua gue. Kenapa? That's the story I wanna tell this time.
Waktu usia gue masih 6 tahun, salah satu mimpi gue adalah menikah dengan seseorang yang mirip dengan Papa. Impian klasik gadis kecil ya, our dad is the mightiest superhero in the whole world.
Ketika usia gue 9 tahun, gue punya cita-cita baru lagi: mau menjadi secantik Mama, yang jago dandan dan selalu pakai baju bagus kemana-mana.
Menginjak usia 15 tahun, gue berubah pikiran, my mother is literally the most annoying person on the planet and I don't wanna be like her at all. Mau ini dilarang, mau itu nggak boleh. All I wanna do was screaming out loud to her face, "Mom, this is my life, not yours! So stop bothering me!"
Kemudian di usia 18 tahun, gue tidak lagi memimpikan sosok Papa sebagai pria ideal. Not when he didn't even able to keep his own marriage last.
Di ulang tahun gue yang ke-22, Papa dan Mama mengatakan ini pada gue: "Ulfa, hidup dan jalan kamu terbentang luas di luar sana. Jangan takut akan melakukan kesalahan yang sama dengan kami, jangan takut nasib kamu akan sama dengan kami, jangan takut untuk hidup."
Akhirnya, umur gue genap 25 tahun. Dan kali ini, gue lah yang menggengam tangan mereka dan berkata: "Papa dan Mama jangan khawatir soal aku, kalian sudah melakukan tugas yang baik sebagai orangtuakujauh dari sempurna, tentu saja. Tapi baik, baik sekali... aku sekarang sudah tumbuh menjadi perempuan dewasa dan perempuan baik-baik, aku sudah tumbuh menjadi manusia seutuhnya yang siap menerjang segala rintangan dalam hidup."
Dan saat itu gue tersadar... lebih-lebih dari orangtua, mereka pada dasarnya adalah manusia. Manusia biasa, sama biasanya dengan gue. Bukan superhero, bukan juga orang menyebalkan.
For the first time ever in my life, I see my parents as human.

Papa bukan lagi sosok yang gue takuti, tapi sosok yang gue segani dan gue sadari ternyata adalah teman diskusi yang sangat menyenangkan. Mama bukan lagi sesosok tukang ngatur-ngatur dalam hidup gue, tapi sosok yang memang terbukti mengenal diri gue lebih baik dari diri gue sendiri.
Dan semua hal yang mereka katakan pada guebaik dalam bentuk nasihat, dalam bentuk omelan, sampai dalam bentuk serangkaian doa di secarik kartu ucapan ulang tahunterbukti benar adanya.

Dan gue kemudian akhirnya menemukan jawaban dari one million dollar question yang gue kira tidak akan gue temukan jawabannya: when will you know that you finally growing up?
My answer is, you'll know that you finally become a whole person when you start seeing your parents as human. An equal human being. As human as you are.