Monday, April 4, 2016

Seeing Parents As Human

Belakangan ini, tiba-tiba hidup gue dikejutkan dengan banyak sekali pelajaran hidup yang tidak diduga datangnya. Kalau mau diceritakan semua, fix, bisa-bisa blog ini akan resmi berubah judul menjadi Ulfa Dzikriya: A Biography.
Tapi ada satu hal yang paling membekas di ingatan gue. The story of me and my parents.
Hubungan gue dengan orangtua gue tidak bisa tepat dibilang mulus-mulus saja, tapi tidak bisa juga didramatisir dengan melabelinya sebagai hubungan yang penuh lika-liku. Pada dasarnya hubungan gue dan orangtua gue sama menyenangkannya dan sama ribetnya dengan hubungan orang lain dan orangtua mereka pada umumnya.
Mungkin yang membedakan adalah fase dan proses gue menyadari kalau orangtua gue sama manusianya dengan gue yang baru gue rasakan belakangan ini.
Gue, adalah seorang anak rumahan yang cenderung menurut pada peraturan yang berlaku di rumah orangtua gue. Sepenuhnya sadar diri kalau rumah tersebut adalah rumah mereka dan gue cuma numpang, so I must live by their rules.
Masa-masa bandel? Oh, tentu saja masa itu pernah dilalui juga. Kenakalan remaja pada umumnya; coba-coba merokok lalu ketahuan si Papa, contohnya. Atau lagi pacaran di teras lalu ketahuan sedang cium-cium pipi si pacar oleh Mama juga pernah. But I never been a naughty daughter, ever. Keras kepala dan selalu punya prinsip sendiri, iya. Tapi selalu jauh dari ribut-ribut besar sama orangtua sendiri. Amit-amit, jangan sampai deh ya...

Sampai setahun belakangan ini, gue tiba-tiba banyak dibuat menangis oleh orangtua gue. Kenapa? That's the story I wanna tell this time.
Waktu usia gue masih 6 tahun, salah satu mimpi gue adalah menikah dengan seseorang yang mirip dengan Papa. Impian klasik gadis kecil ya, our dad is the mightiest superhero in the whole world.
Ketika usia gue 9 tahun, gue punya cita-cita baru lagi: mau menjadi secantik Mama, yang jago dandan dan selalu pakai baju bagus kemana-mana.
Menginjak usia 15 tahun, gue berubah pikiran, my mother is literally the most annoying person on the planet and I don't wanna be like her at all. Mau ini dilarang, mau itu nggak boleh. All I wanna do was screaming out loud to her face, "Mom, this is my life, not yours! So stop bothering me!"
Kemudian di usia 18 tahun, gue tidak lagi memimpikan sosok Papa sebagai pria ideal. Not when he didn't even able to keep his own marriage last.
Di ulang tahun gue yang ke-22, Papa dan Mama mengatakan ini pada gue: "Ulfa, hidup dan jalan kamu terbentang luas di luar sana. Jangan takut akan melakukan kesalahan yang sama dengan kami, jangan takut nasib kamu akan sama dengan kami, jangan takut untuk hidup."
Akhirnya, umur gue genap 25 tahun. Dan kali ini, gue lah yang menggengam tangan mereka dan berkata: "Papa dan Mama jangan khawatir soal aku, kalian sudah melakukan tugas yang baik sebagai orangtuakujauh dari sempurna, tentu saja. Tapi baik, baik sekali... aku sekarang sudah tumbuh menjadi perempuan dewasa dan perempuan baik-baik, aku sudah tumbuh menjadi manusia seutuhnya yang siap menerjang segala rintangan dalam hidup."
Dan saat itu gue tersadar... lebih-lebih dari orangtua, mereka pada dasarnya adalah manusia. Manusia biasa, sama biasanya dengan gue. Bukan superhero, bukan juga orang menyebalkan.
For the first time ever in my life, I see my parents as human.

Papa bukan lagi sosok yang gue takuti, tapi sosok yang gue segani dan gue sadari ternyata adalah teman diskusi yang sangat menyenangkan. Mama bukan lagi sesosok tukang ngatur-ngatur dalam hidup gue, tapi sosok yang memang terbukti mengenal diri gue lebih baik dari diri gue sendiri.
Dan semua hal yang mereka katakan pada guebaik dalam bentuk nasihat, dalam bentuk omelan, sampai dalam bentuk serangkaian doa di secarik kartu ucapan ulang tahunterbukti benar adanya.

Dan gue kemudian akhirnya menemukan jawaban dari one million dollar question yang gue kira tidak akan gue temukan jawabannya: when will you know that you finally growing up?
My answer is, you'll know that you finally become a whole person when you start seeing your parents as human. An equal human being. As human as you are.

No comments:

Post a Comment