Wednesday, June 8, 2016

Keep Calm and Keep Calm

For all the time I've been doing an unnecessary amount of self-talk here, I think this will be the first time I'm talking thoroughly about my job.
I used to dreamlike hundreds oblivious youngsters out there, to have a glamorous, awesome, out of the world kind of job. Tapi hidup mana sih yang semulus itu? Bukan hidup gue yang jelas.

Setelah lulus kuliah, gue lumayan lama menganggur di rumah... bukan lama lagi sih, lama banget! Alasannya adalah karena waktu itu gue adalah satu-satunya perempuan di rumah, jadi gue memiilh untuk menunda mimpi gue dan sementara stay saja di rumah, mengurus ayah dan adik gue.
Keputusan yang sebenarnya diam-diam masih gue sesali sampai detik ini. Kalau saja gue tidak memilih jalan itu, karir gue akan dimulai satu setengah tahun lebih awal. And who knows where would I be now?
Tapi kembali lagi, masanya sudah berlalu. Gue mau pelihara gondok dalam hati karena merasa salah pilih jalan juga nggak ada gunanya lagi sekarang.
Lalu akhirnya, gue mulai bekerja. Di tempat dan di bidang yang jauuuuh dari rencana dan cita-cita gue. Di sebuah travel agent yang masih merintis dengan gaji yang sedang-sedang saja.
Di awal masa bekerja gue, I loathe myself for being trapped working there. Gue masih punya ambisi untuk mencari pekerjaan yang menurut gue lebih pantas untuk diri gue. Hanya saja, mencari pekerjaan itu kan susah-susah gampang ya... dan ternyata lebih susah lagi mencari pekerjaan sambil bekerja full-time.
Beberapa bulan lewat dan gue mulai belajar menikmati ritme pekerjaan gue. Masih belajar, bahkan, hingga sekarang. Pekerjaan ini terhitung sulit untuk gue dengan alasan yang sebenarnya nggak bisa dijadikan alasan: gue nggak mempersiapkan diri gue untuk bekerja di bidang ini. Jadilah semua yang gue kerjakan sekarang terasa baru, asing, dan membingungkan. Makanya nggak jarang gue melakukan kesalahan dalam bekerja. Satu, dua kali bahkan terhitung hampir fatal.
Truth be told, I'm not yet in the place where I can fully enjoy my job. Gue masih dalam tahap working to pay the rent. Yang penting uangnya.
Dalam hati yang terdalam gue masih berdoa untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, pekerjaan yang bisa menjadi passion gue. Or at least, to finally fall in love with my current job for the sake of the job itself.
Bukan cuma sekali gue sempat berpikir untuk nekat resign dan mencetuskan sendiri horor dalam hidup gue, horor karena harus kembali jobless. Tapi gue nggak seberani itu. Ada juga kalanya gue pengen ngebalik meja kerja lalu keluar kantor detik itu juga sambil ngamuk-ngamuk karena kesal dengan pola kerja kantor yang terkadang bisa nggak ada cocok-cocoknya dengan cara kerja gue.
Seriously, though... jargon Keep Calm and Drink Tea itu super sulit kalau sudah dihubungkan dengan urusan pekerjaan. Gue rasa nggak cuma gue saja yang merasa begitu. Boro-boro minum teh, minum air mineral saja bawaannya pengen nyembur kan ya?
So basically, it take all my strength and my determination to control myself and to tone down my ego to keep up with my work. Pun kayanya nggak cuma di kantor yang sekarang saja. Kalau suatu hari gue akan pindah pekerjaan, hal yang sama pasti akan kembali terulang. Mungkin itu sebabnya ada pepatah, tumbuhlah di mana kamu ditanam. Bukan pekerjaan kita yang harus menyesuaikan diri kita, tapi kita yang harus pintar-pintar putar otak dan olah rasa supaya bisa bertahan di pekerjaan kita... that's why they pay us for work, no?

No comments:

Post a Comment