Tuesday, July 19, 2016

Avid (Electronic) Reader

I'm a fool for breakthrough in technology. There, I said it.
Kalau benar di masa depan dunia bakal terancam oleh serangan para robot yang pada dasarnya adalah hasil penemuan dan pengembangan teknologi oleh manusia sendiri, gue mungkin adalah salah satu yang bakal masuk ke perangkap mereka duluan. Easily because 60% aspects of my life wouldn't be able to function normally without technology, gadget, and the parts.
Dan memang tidak bisa dipungkiri betapa perkembangan teknologi sekarang ini sangat mempengaruhi keseharian kita. Baik maupun buruknya.
Salah satu bentuk kemajuan teknologi yang bisa dibilang paling banyak merubah pola hidup gue adalah terobosan yang bernama eBook Reader. Memang sih, nothing beat nikmatnya hunting buku beneran di toko buku, thrift store, atau bahkan perpustakaan. Tapi gue adalah segelintir orang yang pada akhirnya lebih sering memilih buku dalam bentuk elektronik dibanding bentuk fisiknya—yang rata-rata gue beli setelah gue membaca versi eBook-nya, lalu karena bukunya exceptionally great akan gue beli buku aslinya buat koleksi.


I'm a tidak-ada-hari-tanpa-bacaan kind of person. The anxiety of having no book to read is real, I told you. Jadi memang gue cenderung selalu membeli buku dengan jumlah yang tidak seimbang dengan kemampuan membaca gue—bukan karena nggak bisa membaca cepat, tapi karena sulit menemukan waktu luang untuk membaca supaya lekas selesai.
Sistem yang gue terapkan adalah to read at least a chapter a day, dengan cara begitu gue minimal bisa menyelesaikan satu buku dalam satu bulan. And since reading a book is a pretty relaxing activity for me, gue biasa membaca buku sebagai penghantar tidur.


Then again, why read an eBook? Because I find it work for me.
Gue adalah tukang coret-coret buku, jadi fitur highlight dan block-note di eReader berguna sekali untuk gue. Gue tukang baca buku gelap-gelap, the main reason why my eye sight is getting worse by day. Gue juga pelupa, entah berapa banyak buku gue yang terselip entah dimana dan/atau yang dipinjam orang tapi nggak balik. Tapi dengan eReader, nggak ada lagi cerita gue kehilangan buku. Dan alasan favorit gue adalah how I can order any book from the tip of my finger. Open the apps, place order and pay the price, downloading it in less than three minutes, and read it right away! So practical.

Of course, ada kalanya gue rindu dengan bau khas buku yang memabukkan itu. Biasanya kalau sudah begitu I take a break from my gadget dan membaca ulang koleksi buku-buku fisik gue. Atau kalau sedang ada waktu dan ada uang lebih, I will make a trip to the book store, buy one or two real books once in a while.
Whatever it is, yang penting adalah budayakan membaca, apapun bentuk bacaannya... buku fisik, eBook, even audio book—yang kadang gue sendiri juga lakukan, kalau mata sedang berat, I prefer to let the mysterious voice on my reader apps telling the story for me, and it's fun too.
" I like the best to have one book in my hand, and a stack of others on the floor beside me, so as to know the supply of poppy and mandragora will not run out before the small hours. "
Dorothy Parker, The Collected Dorothy Parker