Monday, August 8, 2016

Fanfiction 2.0

A Proud Fangirl.
Pada jamannya, kalimat tersebut sempat gue sematkan dimana-mana dengan bangga. Mendadak menjadi bagian dari identitas gue. I know right, dasar generasi Y, suka sekali kasih-kasih cap di jidat sendiri.
But then again, a proud fangirl was once became the most representative way to described myself. The year was 2009 and I was in a serious relationship with some of hottest guys on the planet, a boy group guys.
Walaupun kalau mau dikilas balik, gue sudah berstatus fangirl jauh sebelum itu. Dan bahkan bukan sekedar fangirl yang belakangan ini lengket dengan artian penggemar dari sebuah kelompok musik dan tari—yang kalau gue pikir-pikir lagi, sungguh lebih tepat disebut groupie. But a true fangirl, the nerd and geeky kind of fangirl... I have a hardcore feeling towards Harry Potter, Star Wars, and a bunch of other likely items. I still do, actually. Until the very second of now.

Mungkin, cetusan soal sekali fangirl akan selalu fangirl itu memang benar adanya. Maybe it'll stay forever in our blood, sebagai suatu hal yang pelan-pelan kita tinggalkan seiring bertambahnya umur dan drama di dunia nyata sehari-hari. Tapi begitu sewaktu-waktu the memory, the hysteria somewhat triggered by something, the feeling is still there dan kemudian kita akan menghabiskan berjam-jam berikutnya bernostalgia, merasakan kembali excitement dan terheran-heran, kok bisa sih dulu gue secinta itu sama sesuatu yang kurang penting begini?
Menyesal nggak? Itu pertanyaan berikutnya yang pasti akan terlintas kalau membicarakan kebodohan-kebodoh fangirling di masa dulu. Dengan lantang gue akan jawab: no, not even a little bit. I was embraced the fangirl title like a proud armor once, dan masa itu adalah salah satu fase terbaik dalam hidup gue.

Beberapa hari yang lalu—atau malah sudah lewat beberapa minggu, ya...... Okay, beberapa waktu yang lalu, gue dan Je sempat menyisihkan waktu untuk acara rutin nginep-nginepan kita. And we ended up not sleeping at all, perkaranya adalah karena keisengan Je buka-buka blog lama kita yang isinya adalah fanfiction jaman dulu! Yes, we did used to wrote a fanfiction! Bahkan menceritakannya disini saja membuat gue tertawa ngakak.
Jadi alkisah, dulu sekali... di tahun-tahun awal gue dan Je mulai berteman dekat, di atas berbagai macam perbedaan, kami menemukan persamaan yang bisa dibilang menjadi salah dua "lem" yang membuat gue dan Je merasa sejiwa dan sehati hingga sekarang; kami sama-sama senang membaca dan menulis. Tentu saja bukan hanya dua hal itu yang mengawali kebodohan dan kehebohan kami dulu, ada satu persamaan lagi (at least, persamaan pada saat itu) yaitu kami sedang sama-sama demam kokoreaan. I said kokoreaan here because I'm far too ashamed to said the word K-Pop. I'm so sorry.
Jadi kala itu, gue dan Je dengan segala visi-misi canggih nan mulia kami yang gue sudah tidak ingat bagaimana ceritanya bisa mencapai kesepakatan untuk team up dan menulis sebuah fanfiction berjudul Princess Stories. AAAAAK. Dari judulnya saja sudah ketebak kalau ceritanya akan super duper cringe worthy.
Kenapa bawa-bawa Princess? Karena salah satu drama Korea favorit gue dan Je adalah Goong alias Princess Hours, tayang sekitar tahun 2006an. Drama dengan setting fiktif, circumstancing a make-believe story about South Korea as a constitutional monarchy semacam di Inggris sana. Dan catatan saja, gue dan Je adalah the masters of copycat kalau dalam urusan tulis-menulis fanfiction. Well, nggak 100% tiru-tiru tentu saja, but we indeed (for several times) ripped of some of our favorite scenes in various Korean drama—and other television series too, if I'm not mistaken, baik lokal maupun interlokal. Cerita yang kemudian kami olah dan kami selipkan di bagian-bagian strategis fanfiction kami.
Kok bangga sih kalian, itu kan berarti kalian nggak original? Ladies and gentlemen, it's a fanfiction after all. Sesuatu yang kami tulis sebagai bentuk kecintaan kami upon everything kokoreaan. Baik kulturnya, makanannya, tempatnya, musiknya, dramanya, dan tentu saja orang-orangnya.

Gue dan Je lalu menghabiskan berjam-jam berikutnya membaca ulang bab demi bab dalam cerita jadul kami itu. Kemudian kami mendapati satu fakta yang mengagetkan, we actually did a pretty good job writing the fanfiction. Mengingat itu adalah pertama kalinya kami menulis bareng, dengan kemampuan menulis yang pas-pasan pula. Tapi setelah dibaca ulang bertahun-tahun kemudian... it was a gooood fanfiction! Bahkan di beberapa bagian, it was very good. Terlalu bagus sampai-sampai kami heran sendiri, "Kok bisa sih kita nulis kaya gitu? Like, hooooow??" Jawaban yang dihasilkan dari hasil ngobrol lama ternyata sangat sederhana, karena kami menulis dengan hati.
Do not underestimate the power of fans, man. Fangirl maupun fanboy, apapun itu yang mereka idolakan, punya superpower ajaib yang bisa membuat mereka sanggup melakukan apa saja dan itu adalah fakta. Makanya banyak fans di luar sana yang terlalu cinta tapi salah kaprah, membuat aktivitas fangirling dan fanboying mereka terkesan lebay dan sangat amat nggak penting, sangat amat nggak masuk akal juga.
Acara ngobrol gue dan Je berlanjut—dan pada saat itu kalau nggak salah, waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Pertanyaan baru tercetus, "Kita masih bisa nggak ya nulis sebagus dan serinci itu sekarang?" Yang kemudian dijawab, "Heyyy... Kenapa nggak?!" Dan itu, teman-teman, adalah detik dimana gue dan Je akhirnya memutuskan untuk memulai Project Fanfiction 2.0!
Eh, tapi kan kita sudah nggak update sama kokoreaan lagi? Itu adalah hal yang baru terpikiran oleh gue dan Je belakangan. Karena memang begitulah adanya. Faktor umur, faktor kesibukan, dan faktor hilang feeling membuat kami mulai meninggalkan Korean-lalaland sejak lama. Well, lebih ke gue sih yang sudah total tobat dari keseruan itu. Agaknya hal-hal berbau kokoreaan yang masih lumayan sering gue lakukan sekarang cuma sesekali mendengarkan lagu-lagunya, sesekali ngikutin kabar terbaru SHINee, dan sesekali lunch di Korean restaurant favorit gue. That's it.
Or so I thought. Sampai tiba-tiba gue nyeletuk—entah dapat ide dari mana pula, "Je, kita walaupun sekarang bukan K-Popers lagi tapi kan kita K-Pop...corn!"
Kemudian hening. Kemudian, "HAHAHA IYAAAAA!" Sahut Je. Indeed, gue dan Je masihlah penggemar berat segala jenis Korean drama. Get it? K-Popcorn? karena sambil kita nonton, we eat popcorn. So world, here comes the new branch of K-Enthusiast: the popcorn. :D

With that, the new deal was sealed. We're going to write yet another fanfiction! Yay! An adult installment dari fancition kita yang terdahulu.
Who's we gonna write about? We're not gonna tell. Let the imaginary becomes our little secret and we'll let YOU decide which Korean hotties yang muncul di kepala kalian saat tokoh-tokoh itu mengalir di cerita kami. Fun isn't it? Gue sebenarnya sudah nggak sabar untuk memulai menulis chapter pertama gue. Tapi kesibukan gue dan Je masih menghalangi kami untuk brainstorming lebih lanjut, let alone start writing. But soon, I promise.

3 comments:

  1. berhubung saya cowok, jadinya gabisa jadi fangirl hahaha

    btw

    kalau diberi jarak antar paragraf jadi lebih enak dibaca tulisannya mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju, bacanya agak susah tp tulisannya cukup bagus

      Delete
  2. ditunggu tulisan-tulisan berikutnya mbak?
    thank

    ReplyDelete